Setelah ganti KA biasa ke KA Shing Kan Seng di Fukuoka, dengan bullet train itu kami tiba di Kyoto 3,5 jam kemudian dan hari sudah mulai gelap. Kami sudah tidak perlu lagi lari lari seperti di Fukuoka karena Singkan Seng itu hanya berhenti 1 menit saja, setengah menit untuk mereka yang turun dan setengah menit lagi untuk mereka yang naik. Jadi semua on time dan semua harus bergerak cepat.
Hotel kami The Righa Royal tidaklah jauh dari stasiun KA dan dengan taxi hanya bertarif Yen 650, biasanya sopir taxi ngedumel karena dapat penumpang dengan jarak dekat sedangkan dia sudah ngantre beberapa saat di airport. Kekecewaan itu sudah biasa terjadi di seluruh dunia dengan airport taxi, jadi mungkin itu juga caranya untuk minta uang lebih, jadi kita berikan Yen 1000 dan keep the change.
The Righa Royal cukup bagus dan nyaman dan juga lebih berbau International, tidak seperti hotel kemarin yang kental sekali atmosphere Jepangnya. Setelah dinner bersama, kami menikmati kamar masing masing yang seperti biasa dengan bed yang enak sekali.
Breakfast ada dua pilihan, ada bagian breakfast Jepang dilantai bawah dan ada European breakfast di lantai lobby, saya pilih European breakfast kali ini. Dan jam 08.30 tepat sopir kami dengan Limo kusus untuk 9 orang sudah siap menghantar kami melihat Kyoto dalam 8 jam, namun sorenya ternyata lebih 2 jam sehingga kami harus bayar extra charge.
Keliling kota Kyoto asyik juga, sama dengan kota lainnya, kota ini juga sangat bersih dan rapi. Trans Sing Kang Seng yang melintasi selatan – Utara Jepang berpusat di Tokyo, selalu lewat dalam selang setiap 15 menit, begitupun KA biasa juga dengan frekuensi lebih banyak, sehingga masyarakat punya kepastian waktu untuk berkerja atau dinas karena semua public transport on time dan comfortable.
Pertama kami mengunjungi sebuah kuil dengan patung Budha yang terbuat dari Bronze tang terbesar diseluruh Jepang. Kota Kyoto adalah kota yang penuh dengan kuil dan temple yang berbagai macam yang merupakan peninggalan sejarah yang luar biasa, dari sebab itu US militer yang tadinya merencanakan untuk mengebom kota ini tahun 1945, achirnya mengurungkan untuk itu.
Untuk sampai di bangunan utama tempat Budha besar itu, kami melalui 2 buah gate yang besar dan lebar, Mario akan bilang “tu….sar…li = Pintu Besar Sekali”, tiang tiangnya terbuat dari kayu kayu utuh yang sangat besar besar sampai 1 tiang harus dipeluk oleh 3 atau 4 orang diameternya dengan tinggi lebih dari 15 meter.
Dimana raja raja menguasa dulu bisa mendapatkannya ?, Saya sebagai seorang pengagum kayu besar, sempat geleng geleng kepala sampai 2 menit untuk memikirkan dan mengaguminya. Dan kayu besar itu banyak sekali.
Ada beberapa bagian bangunan konon sempat terbakar atau runtuh, namun selalu di restorasi sesuai dengan asalnya. Hebat sekali, dana dari mana ? Namun kuil ini memang dikunjungi oleh sekitar 25 Juta wisatawan setiap tahun dan Kyoto dikunjungi oleh 50 juta wisatawan, kita di Bali hanya 2,5 juta wisatawan sudah macet cet.
Fund raising mereka secara berkesinambungan, disamping karcis masuk senilai Yen 600 juga mereka lakukan penjualan barang barang souvenir dan juga genteng. Seorang yang sumbang Yen 1000 boleh menulis namanya di sebuah genteng yang akan dipakai selamanya bila diperlukan restorasi. Dan lain lain cara.
Didepan sebuah kuil suci selalu ada bagian dimana setiap orang bisa cuci tangan, muka dan minum air sumber yang mengalir dan disucikan. Jepang memang penuh karunia alamnya dengan air sumber dimana mana, dan itu juga didukung oleh sikap orang Jepang yang mencintai alam sejak kecil, tidak menebang pohon sembarangan, berkawan dengan hutan dan ada banyak sekali hutan moss yang menyimpan air hujan banyak sekali.
Setelah a quick lunch dan a quick shopping, kami berkunjung ke sebuah Moss Temple, sebuah kuil yang dikelilingi oleh hutan pohon besar rindang dan seluruh tamannya ada moss yang tebal tebal bersih terpelihara rapi. PP Setiari bilang, itu lho, ada tourist yang nyapu…… sambil menunjuk orang Jepang menyapu yang biasanya jadi Tourist ke Bali.
Moss temple tidak untuk umum, harus memakai appointment jauh sebelumnya dan harga ticketnya termasuk mahal Yen 3000 (Rp.360,000) per orang. Kami sedikit terlambat, uapacara sudah dimulai, sudah banyak orang Jepang ada disana sekitar 150 orang.
Ternyata disini orang boleh menulis permintaan dan doa, dan pada pengempon temple itu akan mendoakan dan membaca permintaan kita itu. Sama di beberapa orde di agama Katholik, misalnya ada Susteran di pulau Nias yang melakukan hal yang sama, mendoakan permintaan pengunjung, dan ini ada di banyak tempat di dunia. Mungkin banyak orang bisnis yang tidak punya waktu sendiri untuk berdoa, minta didoakan oleh biarawan dan biarawati.
Saya sudah berkunjung 2 kali ke Golden Paviliun temple, dimana raja dulu disana betul betul memperlihatkan kekuasaannya. Dibuatnya istananya dan didepan istananya dibuat kolam besar dikelilingi pepohonan yang rindang. Ditengah kolam itu dibangun sebuah paviliun dimana seluruh atap tingkat 2 itu dilapisi dengan emas, sombong sekali raja itu, tapi itu memang benar terjadi.
Diatas atap itu ada seekor burung atau ayam imagination (kalau di Indonesia burung Garuda) yang terbuat dari Emas murni. Mata uang kertas Jepang hanya ada pecahan 1000, 5000 dan 10.000, nah burung itu ada juga di cetak pada uang kertas pecahan 10.000 itu. Diluar pecahan uang itu ada coin yang Yen 1, 10, 50, 100 dan 500. Itu saja dan simple sebenarnya. Kita jangan bicara rupiah disini, nanti tidak bisa makan dan minum.
Mengunjungi sebuah pasar selalu menarik. Dan saya terutama sangat tertarik melihat berbagai jenis ikan laut. Dan setelah istirahat sejenak makan ice cream di pelataran Golden Paviliun temple, kami pergi berkunjung ke sebuah pasar yang sangat luas.
Di Pasar itu ada jual pakaian, kacang kacangan berbagai rasa dan bentuk dan ikan laut dengan berbagai cara memasaknya serta bumbu bumbu macam macam. Saya sangat suka disitu, coba ini dan coba itu. Pasar bersih itu hanya saya dapatkan disini.
Hari ini kami tutup dengan diner special di lantai paling atas hotel kami, karena capek tidak mau keluar hotel lagi, apalagi besok paginya harus bangun pagi sekali untuk pergi ke airport. Waduk.
Namun kami sangat puas dengan Wagyu beefnya yang soooooo tender yang kami bawa tidur nyenyak sepanjang malam.
Besok kami sudah sampai dirumah, Garuda C class pasti memuaskan sekali lagi.

Leave a comment