Menoleh Pariwisata Indonesia dan Pariwisata Bali kedepan

Oleh:  Aloysius Purwa (achir tahun 2012)

Sementara ekonomi Eropa, Amerika dan berbagai belahan dunia rontok pada dua tahun belakangan ini dimulai dengan runtuhnya Lehman Brothers dan semua turunan businessnya, tidak begitu halnya dengan ekonomi China, India dan Indonesia.

Kita menyaksikan bahwa ketiga Negara ini mencuat naik perekonomiannya dengan mencolok seakan tidak ada krisis dibelahan dunia lainnya. Ada yang menyatakan bahwa dalam 2 tahun ini 50 Juta rakyat golongan bawah sudah menjadi golongan menengah, dan yang tadinya golongan menengah jadi orang orang kaya, dan yang tadinya orang kaya menjadi super kaya di Indonesia.

Semua orang orang ini sudah menjadi genit dan ingin sekali berkunjung ke tanah asal keluarga, ke daerah lain mengunjungi teman dan atau berwisata secara kecil kecilan, dan ada pula yang mulai berani berlang lang buana jarak jauh.

Dengan tersedianya low cost carrier saat ini, ada air asia yang melayani regional route, Lion air atau Wings air yang merebut pasaran domestik dan tentunya Garuda Indonesia juga masih harus mempertahankan diri untuk merebut pasar yang sudah dipegangnya sejak lama, dan banyak penerbangan domestik lainnya.

Lion airlines sudah memesan 160 lebih pesawat Boeing B737 900 ER dan jenis lainnya, yang merupakan pesanan yang paling besar didunia tahun lalu, pasti akan mendominir semua route domestik di sekitar 17,000 pulau pulau yang dimiliki oleh Indonesia yang sudah didambakan memiliki hubungan udara terjangkau sejak lama.

Ini berarti terjadi penyebaran kekayaan dan uang di seluruh Indonesia dan akan terjadi adanya investasi investasi di daerah daerah yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan untuk dunia pariwisata.

Kota seperti Bandung, Makasar, Solo, Medan, Surabaya dan lainnya menjadi menggeliat begitu diterbangi langsung dari kota-kota luar negeri seperti Singapura dan Kualalumpur. Yang diperlukan hanya airports yang diperbarui dan diperbesar seperti Tambolaka yang memungkinkan sekali dijadikan gate to NTT and beyond.

Dengan motto motto yang menawan seperti “ Now every one can fly” dan “ We make people fly” betul betul menggaruk kegenitan masyarakat untuk menggiring keingin tahuan tentang dunia diluar kehidupannya sendiri dan sudah menjadikan mereka suka bepergian.

Kegenitan masyarakat ini bisa terobati dan terlihat jelas dari pandangan kita di semua airports di Indonesia saat ini selalu penuh dengan wisatawan dalam negeri, dan jangan lupa ke 50 Juta masyarakat tadi sudah membeli mobil sendiri baik secara cash maupun secara men-cicil.

Kalau kita menoleh ke Negara China, keadaannya jauh lebih maju, ekonomi baik produksi maupun pasar jauh lebih besar dari pada di Indonesia, sehingga sebetulnya saat ini pariwisata mereka cukup berasal dari dalam negeri sendiri tanpa sangat mengharapkan wisatawan asing.

Keadaan seperti ini sudah merambah dan memperbaiki pariwisata dalam negeri, dan keadaan ini pula yang ditangkap oleh sebagian investor dalam negeri yang tadinya menabung uangnya di bank dalam dan luar negeri dengan bunga yang kecil, merasa akan lebih untung untuk menanamkan uangnya pada bidang property terutama ke Bali. Jadi wisatawan Nusantara sudah pasti akan terus meningkat.

Saya pernah bergurau dengan beberapa bankir di Jakarta, yang mengatakan walaupun sudah memiliki beberapa rumah besar di Jakarta, namun mereka belum dinamakan kaya oleh teman teman mereka apabila belum punya rumah atau villa di Bali.

Dampaknya terhadap Pariwisata di Bali

Keadaan keadaan yang saya sebutkan tadi akan memaksa pergerakan dan perobahan pola kepariwisataan di Bali, terutama apabila Bali tidak memiliki pemerintah yang kuat dalam menjaga kekayaan Bali berupa arsitektur, seni, dan perilaku budaya Bali yang sudah kesohor sejak jamannya Cavarubias menetap di Bali.

Kedatangan investor asing atau investor dari luar Bali secara besar besaran, ditambah oleh adanya team pemberi ijin bangunan yang lebih kuat unsur bukan penganut bangunan arsitektur Bali, membuat perubahan besar dan mendasar terhadap perilaku bangunan yang ditampilkan di pulau Bali ini.

Kalau pada tahun 70-an kita kenal adanya Cottages dan Bungalows, kata ini meredup berganti kata Villa sejak pertengahan tahun 1985, dan Villa villa ini mencuat namanya sejak diperkenalkan arsitektur minimalis, dan Minimalis ini merambah ke bangunan tingkat 4 dan 5 dengan menggunakan lahan yang relatif sedikit dengan merek apartement dan Condotel. Yang sebenarnya adalah cikal bakal dari ruko (rumah toko), yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.

Yang perlu kita sayangkan adalah, kemana dibawa ciri ciri khas bangunan Bali yang terkenal dengan keseimbangan Tri Hita Karana yang menyebabkan Bali mendapatkan julukan The best island in the world. Alam yang asri dan indah  dipaksakan diganti dengan bangunan beton minimalis tanpa kebun, tanaman dan lahan parkir.

Di Jepang pembangunan produk produk wisata 90 persen harus diserahkan dan dipelihara oleh masyarakat local setempat sehingga 90 persen pula keuntungan pariwisata itu mengendap di masyarakat local untuk memperbaiki ekonomi dan pembangunan masyarakat.

Bagaimana dengan Bali ? Tidak ada satupun investasi produk besar berasal atau dimiliki masyarakat setempat. Kebanyakan masyarakat Bali hanya mampu untuk mendirikan produk produk yang kecil kecil, sehingga Kuta misalnya sejak dulu diperuntukkan untuk losmen dan paling banter hotel bintang 3 saja.

Itu semua dikarenakan infra struktur untuk Kuta, hanya mampu untuk mendukung hotel hotel dan produk pariwisata yang kecil kecil saja.  Apabila kita mendirikan kawasan wisata atau hotel wisata yang besar besar, maka kita tidak hanya harus berpikir untuk membuat parkir kusus dan mampu menerima mobil kunjungan kesana, namun juga harus mengadakan jalan jalan yang mampu menampung bus, mobil taxi dan sepeda motor yang membawa wisatawan kesana dan pergi pula dari tempat itu.

Bapak Bupati Badung sudah melakukan hal yang benar untuk membuat dan  melebarkan jalan di banyak tempat dan desa yang memungkinkan, namun team yang memberikan ijin bangunan lebih cepat dan tidak tanggap dengan kemungkinan yang dihasilkan akibat bangunan bangunan yang diijinkan itu.

Di sepanjang pantai Tuban, Kuta, Legian, Seminyak, Brawa dan Canggu, sudah berdiri hotel besar dan mall mall besar, disamping itu didukung pula berbagai macam bangunan yang sedang dan kecil-kecil disela lorong lorong sempit dan pengap, dan semua bangunan itu sangat jarang menyiapkan tempat parkir yang memadai.

Semua usaha itu disamping harus dibawakan wisatawan masuk kesana dan digiring pergi dari sana, juga harus dibawakan para karyawan yang mendukung usaha usaha itu yang mungkin berjumlah puluhan ribu. Karena mereka itu ada dari tingkat managers, supervisors, waiters, satpam, mechanical, engineering, room boys and maids, cooks dan administrasi lainnya sesuai besarnya hotel atau produk lainnya.

Mereka itu sering bekerja dengan shifting dan semuanya datang memakai kendaraan mobil atau sepeda motor dan semuanya melalui jalan yang sama dan sempit yang kita gunakan untuk moving semua wisatawan kesana.                                        (Bersambung…….)