Pada kepariwisataan Bali kita kenal 2 macam wisatawan : Repeater and First timer

Tahun 1976 saya mulai hidup saya di Jalan Gado-gado Seminyak, hanya kami sekeluarga dan Pak Milo yang orang luar Seminyak menetap disana, ada juga beberapa wisatawan asing yang tinggal bulanan di Agung Village dengan menyewa rumah bulanan. Mereka itu datang setiap tahun terus menerus.

20 puluhan tahun lalu Bali memiliki 40% wisatawan ke Bali yang merupakan repeater guests yang sangat setia, merekapun berpencar tinggalnya sesuai dengan isi kantong masing-masing. Yang berkantong tebal tinggal di Oberoi Seminyak, atau Tanjung Sari Sanur atau di Tjampuhan dan  Puri Puri di Ubud.

Yang punya kantong pas pasan tingal di bungalows atau cottages atau losmen, milik orang orang Bali yang ada dimana-mana, penduduk Bali saat itu tidak ada yang kedengaran stress, mereka biasa saja pergi bekerja ke sawah setiap hari didepan rumah saya di Seminyak dan selalu ramah bertegur sapa.

Pada pertengahan tahun delapan puluhan, Garuda mulai melakukan expansi besar besaran, juga diikuti oleh Open sky policy dimana banyak sekali penerbangan asing mulai menerbangi Bali maka makin banyak pula jumlah Repeaters guests untuk Bali.

Permintaan untuk Hotel kelas tinggi pun mulai meningkat terus menyaingi hotel kelas tinggi satu-satunya di tahun tujuhpuluhan Bali beach Hotel dan Bali Hyatt Hotel. Nusa Dua Beach Hotel adalah hotel bintang lima pertama didirikan di area BTDC dan segera diikuti oleh 9 Hotel Bintang Lima lainnya. Sedangkan sampai dengan pemerintahan Gubernur IB Mantra, satupun Hotel tidak boleh dibangun di Benoa.

Mulai saat itulah terjadi pasang surut kepariwisataan Bali, begitu produk produk gencar dibangun maka occupancy pasti menjadi menurun, begitu occupancy menurun maka sangat gencar pula dilakukan promosi promosi untuk mengisi kamar kamar itu termasuk penurunan harga, dan malah ada juga Two for One dan bahkan Three for One.

Setiap pejabat yang mengerti tentang keterbatasan Pulau Bali ini selalu berteriak, ayo lakukan survey berapa “Daya Dukung” Bali ini sebenarnya, namun teriakan itu belum ada yang betul betul menggubris dengan hasil nyata yang perlu disikapi, bahkan saat ini teriakan itu bak ditelan bumi, tidak ada lagi yang berteriak, mungkin sudah bosan.

Saat ini sudah banyak tanda tanda yang menyatakan bahwa Bali ini berada dalam keadaan gawat dan kritis. Listrik pernah mengkawatirkan, dan dengan pembangunan tidak terbendung ini bukan tidak mungkin bisa menjadi momok yang perlu diwaspadai. Yang paling perlu dipikirkan adalah masalah air.

Di Hotel saya di sebelah Hard Rock Hotel sudah lebih dari sepuluh tahun air sumurnya kalau dipakai mandi, sabun tidak mau berbusa, karena air laut sudah masuk sampai disana, lokasi sumur sekitar 300 meter dari bibir pantai. Sedangkan di Kuta sudah banyak sekali hotel bintang lima dan mall mall di sepanjang garis pantai yang sudah mengebor air bawah tanah, saya tidak tahu pasti saat ini intrusi air laut mungkin sudah mencapai 1 kilometer. Di Sanur dan di NusaDua terjadilah hal yang sama dan sebangun.

Hotel Bulgari dan Hotel Conrad saya dengar sudah harus membeli ratusan truk tangki air setiap hari, begitupun banyak hotel hotel lain dan perumahan yang sudah mendapatkan air sumurnya sadah atau kering.

Saya tidak bisa memabayangkan bagaimana nantinya bila truk truk itu pula tidak menemukan air lagi untuk dijual, atau sumur sumur sumber air di daerah spring menjadi kering ? Terpaksa pulalah semua kita akan membeli air hasil disalinasi mesin merobah air laut menjadi air tawar yang sangat mahal prosesnya seperti di Saudi Arabia. Namun kan kita tidak punya minyak untuk beaya  melakukan semua itu ?

Dengan perobahan drastic yang ada di Bali saat ini, banyak sekali repeater guests kita sudah menjerit : Macet dimana-mana tanpa solusi, antrean panjang dan pengap di banyak tempat di airport yang tidak nyaman, kotor dan sampah dimana mana tanpa solusi yang benar, polusi udara, polusi suara di daerah keramaian hidup malam, dan banyak yang merasa tidak aman dan tidak nyaman lagi, sehingga sering terdengar mereka mengatakan “ This will be my last trip to Bali”

Namun Bali memang tidak usah kawatir seperti kata beberapa pejabat, karena Bali masih punya taksu, masih punya nama, dan masih menarik di perbincangan luar negeri maupun dalam negeri, sehingga pasti masih ada saja wisatawan yang First timer datang ke Bali, hanya saja untuk mendatangkan mereka Bali perlu beaya promosi yang besar secara terus menerus.

APEC  dan banyak konferensi besar di Bali tahun 2013

Adalah sebuah gracing in disguise bahwa Bali dianggap sangat cocok untuk pertemuan pertemuan International yang bergensi, karena disamping mudah dijangkau dari mana mana, juga memiliki hotel dan conference center yang memadai disertai dengan daya tarik banyak tempat tempat yang menarik dikunjungi.

APEC adalah sebuah pertemuan yang sangat bergensi dan akan dihadiri oleh puluhan kepala Negara dan pejabat pejabat kenegaraan yang penting lainnya. Semua hotels akan penuh untuk sekitar 2 minggu, semua suites, semua transport mewah dan semua stakeholders pariwisata akan mendapatkan porsinya masing masing.

Karena bergensinya pertemuan APEC itu maka Indonesia boleh dikatakan mempertaruhkan namanya dengan berani menerima event itu sebagai Host country. Apa keuntungannya bagi Bali ? Pemerintah pusat bersedia mengucurkan trilliunan dana untuk memperluas dan memperbaiki Ngurah Rai Airport, membangun underpass di simpang siur dan membangun bypass Benoa – Airport – Sanur di selela sela hutan mangrove.

Walaupun mungkin tidak semuanya akan selesai sempurna sebelum September 2013 saat APEC berlangsung, paling tidak pekerjaan itu sudah dimulai dan harus di dukung oleh semua masyarakat Bali, karena ke tiga facilitas itu pasti dapat mengurai kepadatan kendaraan di sekitar daerah itu, walaupun akan bersifat sementara apabila pembangunan product product terus menggila seperti saat ini.

Kepadatan kendaraan di simpang siur dan di pertigaan bandara pasti akan terurai, tetapi bagaimana dengan keadaan bottle necks di sekitar area itu ? Misalnya Jalan Raya Tuban, Jalan Raya Imambonjol, Jalan Raya Nusadua, Jimbaran, Seminyak, Kerobokan dan Canggu dan lain sebagainya yang sudah terbiasa macet cet selama tiga tahun belakangan ini ?

Memang kita tidak boleh melarang masyarakat untuk tidak membangun, namun kita seharusnya mampu membuat blue print dan mengatur dimana boleh membangun apa dan berbentuk dan corak bangaimana. Semuanya ini harus mengikuti kepentingan jangka panjang, bukan hanya untuk sesaat saja.

………………….Bersambung……