Pemerataan pembangunan infrastruktur di Bali

Membangun infra struktur memang kelihatannya bukan keahlian kita, banyak sekali hal hal penting terlupakan pada saat membangun di Bali. Pembangunan di Bali selatan begitu semrawutnya sehingga sudah tidak Nampak ada usaha usaha keseimbangan itu.

Leluhur orang Bali mengajarkan setiap kehidupan, pengaturan dan pembangunan, selalu ada kepala, badan dan kaki. Namun kecenderungan bangunan saat ini terutama di Bali selatan banyak yang nggak ada kepala maupun kaki, yang ada hanya badan saja.

Belum ada usaha yang mencolok dan nyata untuk melakukan pemerataan infra structure sehingga ketidak-seimbangan menjadi lebih tidak seimbang lagi, dimana tidak ada ketidakseimbangan itu pasti tidak mengenakkan dan pasti tidak memberikan kebahagiaan. Pemikiran pemerataan pembangunan masih hanya bersifat kertas coretan.

Sementara Bali selatan hampir tenggelam dengan bangunan bangunan yang tidak sama sekali menggambarkan Bali, dan dibiarkan begitu berkelanjutan, dan diserbu oleh kemacetan dimana mana karena salah konsep, namun tidak begitu halnya di Bali Timur, Bali Barat apalagi di Bali Utara.

Tidak ada yang  mau disalahkan karena jalan semuanya macet di Bali selatan, dan tidak pula ada yang memberikan koreksi koreksi terhadap kesalahan itu, bahkan sering terjadi dukungan dan pujian terhadap kesalahan.

Sudah tahu pasti ada yang salah bila macet itu berjam-jam di banyak ruas jalan di Bali selatan, pejabat atau memberi ijin bangunan hanya nyengir saja seakan tidak bersalah dan berdosa kepada seluruh masyarakat yang menjadi menderita begitu. Bahkan ada pejabat yang dengan bangganya memakai sirene untuk menembus kemacetan di jalan supaya bisa berlalu.

Bukankah ini perlu dikoreksi ? Koreksi dengan mengharuskan semua usaha termasuk toko, hotel dan semua produk lainnya untuk secara drastic mundur dari jalan umum dan menyediakan tempat parkir usahanya sepadan dengan volume clients yang diharapkan masuk ke busniessnya. Dan kalau tidak bisa memenuhi syarat itu, ijin usahanya di pending dulu atau di blokir sampai syarat itu terpenuhi.

Ini pasti dianggap pil pahit, namun bukankan semua obat itu pahit adanya ? Kita harus belajar dari daerah daerah lain yang sudah melakukan kesalahan yang sama demi pembangunan. Malorca pernah membangun tak terkendali karena ada banyak kunjungan dari Eropah, namun karena terlalu sumpek masyarakat Eropah secara besar besaran membatalkan kunjungannya ke Malorca.

Apa yang terjadi, pemerintahnya melakukan koreksi sampai harus membongkar 40% dari semua bangunan yang ada untuk membuat kehidupan masyarakatnya menjadi nyaman kembali. Dimana suara Walhi yang sayang lingkungan dan menggebu gebu membela hutan bakau, namun diam saja melihat kenyataan lingkungan kita menjadi hancur begini dengan macet, bising, kotor dan msyarakat stress setiap hari ?

Stress, penyakit masa kini dan bisa menjadi sangat parah

Puluhan tahun lalu, kita mendengar kata “ Stress” saja tidak pernah. Masyarakat Bali mungkin lebih miskin dalam keuangan namun nampaknya jauh lebih bahagia dan merasa cukup dalam keseharian. Mereka yang kebanyakan petani yang rajin, namun disela sela kehidupan bertani mereka melakukan kegiatan keagamaan dan dalam pujiannya mereka bernyanyi, melukis, memahat patung dan membuat bebanten sehari hari dengan daun kelapa muda atau daun pisang segar dengan bunga bunga harum serta warna warni.

Pagi pagi benar mereka sudah pergi ke sawah sebelum matahari panas dan jam 10 pagi mereka makan pagi di tengah tengah sawah diatas pematang atau pada pondok sederhana yang dibuatnya. Saya tinggal di ubud di Puri Saren Kangin selama 2 tahun tahun 1973 dan sangat menikmati sejuknya Ubud dan kedamaian ada disawah sawah itu.

Malam malam saya sangat suka melihat gadis gadis latihan menari dan pemudanya latihan megambel saling berseloroh gembira. Pemandangan seperti itu sudah sangat sukar diketemukan kecuali kita sekarang menginap di kaki Gunung Batu Karu sekitar desa Karyasari, Belimbing atau Suradadi dekat daerah pupuan.

Kini sudah semuanya banyak berbeda, sawah-sawah sudah sebagian besar menjadi toko, spa, warung, art shop dan villa villa dan hotel, sama persis seperti didepan rumah saya di Seminyak Jalan Gado gado. Semua sawah yang indah itu lenyap.

Orang orang tua seperti saya dan anak-anak mudah sudah beralih profesi dan pekerjaan, ada yang menjadi pengusaha ada pula yang hanya bekerja pada pengusaha lainnya, mereka sudah tidak lagi mau menajdi petani, dan bahkan ada ribuan anak muda yang pergi bekerja naik kapal pesiar.

Mereka yang bekerja di kapal pesiar itu sering membawa uang yang cukup besar untuk menambah bangunan bangunan baik berupa rumah atau toko di sawah milik nenek moyangnya.

Memang dunia secara keseluruhan sedang menderita “Global Warming” Cuaca menjdi tidak menentu, di Eropah pada musim panas menjadi sangat panas, pada musim dingin saljunya dan dinginnya sangat extrim. Di Bali sama juga, tidak pernah dingin sekali, namun panas dan high humidity sepanjang tahun.

Ditambah dengan meriahnya gedung gedung dan semuanya juga memakai AC saat ini, maka udara Bali termasuk di Ubud menjadi sangat extrim panas sekali sepanjang tahun.

Menurut saya banyak sekali keadaan di Bali yang memicu masyarakat menjadi sangat stress, panas yang berkelebihan sepanjang tahun, Macetnya jalan dimana mana, semuanya serba ada di Bali namun tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat Bali, Kompetisi kerja dan belajar menjadi sangat ketat, banyak anak anak menjadi sangat stress menoleh masa depan mereka.

Sering Koran Koran di Bali menampilkan adanya tawuran antar anak sekolah, perang antar banjar, perkelahian dengan senjata tajam, saling bakar antar desa dan sebagainya, dan itu persis sudah menunjukkan masyarakat Bali sudah menjadi Stress karena perubahan yang terjadi di Bali secara dahsyat tak terkendali.

Yang sangat menyedihkan, data dari Prof Dr Ni Luh Suryani yang menyatakan bahwa secara rata rata di Pulau Dewata ini sudah (kalau tidak salah) 1,75 orang setiap hari bunuh diri. Dan sebagian besar adalah anak anak muda usia sekolah.

Pejabat dan masyarakat harus mencamkan hal hal ini, dan berani melakukan koreksi koreksi demi masa depan Bali dan anak anak Bali.                       …….(Habis)….