Apa artinya semuanya ini ?

Jalan jalan yang ada dimana mana menjadi mampet terutama di sekitar bunderan simpang siur, Canggu – Kerobokan, Seminyak dimana-mana, Jalan Legian, Jalan Raya Kuta, Jalan Imambonjol, Jalan Diponegoro, Jalan sekitar Denpasar, Tanjung Bungkak – Sanur dan lain sebagainya.

Masyarakat Bali sudah pasti banyak yang sudah mampu meningkatkan pendapatannya dari segi keuangan, namun bila kita telaah lebih jauh, apakah benar masyarakat Bali menghadapi hidup dan memiliki qualitas hidup yang lebih tinggi ? Mari kita coba telaah.

Diakui setiap keluarga sudah memiliki mobil dan ada yang beberapa, dan paling tidak sebuah sepeda motor. Namun setiap hari bepergian untuk ke dan dari Kuta dalam rangka bekerja, bisa saja 3 sampai 4 jam dihabiskan di jalan macet penuh polusi udara, bunyi, debu dan stress karena harus tiba pada appoinments yang tidak terkejar.

Lorong lorong yang sempit di Tuban, Kuta, Legian, Seminyak, Kerobokan, Brawa dan Canggu menjadi semakin sukar untuk diatur, jalan macet tidak bisa dihindarkan, dan ini juga akan menyebabkan sukar pula untuk menjaga kebersihannya dan sangat rawan untuk banjir dimusim hujan karena got got sering tersumbat sampah.

Karena sulit dijangkau oleh Ambulance dan mobil pemadam kebakaran, maka hal hal yang bisa terselamatkan bila terjadi suatu musibah menjadi tidak terselamatkan. Begitu juga dari segi keamanan, karena adanya banyak lorong lorong yang gelap dan sempit maka bisa saja terjadi kejahatan dalam berbagai macam bentuk yang menyebabkan penjara menjadi sangat over kapasity.

Kata orang, segala sesuatu bisa didapatkan sekarang di Bali, restaurant apa saja, delicacies import apa saja, minuman apa saja, kesenangan apa saja, yang penting banyak uang semua datang. Ini semua juga disebabkan begitu banyaknya orang asing dan masyarakat dari luar Bali yang menetap di Bali, namun hal ini juga menyebabkan hidup menjadi sangat mahal buat orang Bali yang penghasilannya biasa biasa saja.

Makin tinggi tingkat kehidupan manusia itu, maka makin banyak pula sampah yang dihasilkannya. Semua sampah berupa polusi udara, kebisingan dan loud speakers, sampah organic dan non organic, sampah plastik, sampah botol kaca, sampah hidup yang acuh tak acuh, semuanya terperangkap di Pulau Bali yang sering disebut pulau Dewata itu.

Bali mendapatkan Awards yang sangat prestigious berdasarkan surat pembaca the Conde Nast Travellers magazine sebagai “The Best Island in the world”, saya mencoba menkorek korek mengapa mereka  menilai Bali seperti itu karena saya juga merasa bangga menjadi orang Bali.

Tenyata banyak surat dan ceritera mereka yang menilai itu karena pengalaman baik bergaul dengan orang Bali yang ramah tamah, pengalaman mereka jalan jalan disawah dipinggir daerah Ubud dimana hanya terdengar suara air sungai dibawah sana, pengalaman diperbolehkan ikut bersama sebuah ritual yang unik yang hanya terdapat di Bali, melihat berbagai macam cara hidup orang Bali yang merasuk dalam kehidupan beragama mereka yang memberi warna terhadap pulau Bali.

Saya sendiri berpendapat bahwa yang voting itu adalah mereka yang tinggal di hotel hotel yang memenangkan Gold dan Emerald Tri Hita Karana Awards, karena hanya di hotel hotel ini mereka akan mengalami kehidupan karyawannya yang seimbang dan harmonis, kebunnya yang indah alamiah, tempat tempat yang mampu ber taksu dan memberikan perasaan senang.

Namun pembangunan kepariwisataan kita apakah masih menuju kearah itu ? Menurut pendapat saya, di Badung tidak, pembangunannya mengarah ke pariwisata masal dimana hanya yang besar dan berkapital besar saja yang mampu mengejar quantitas dan mendapatkan profit dari harga semurah-murahnya namun dalam quantity yang besar.

Contohnya hotel hotel baru dengan tanah sedikit namun ratusan kamarnya, pasti akan mampu melibas hotel hotel dan losmen traditional dengan kamar 5 atau 15 yang dimiliki penduduk local selama ini.

Begitu pula menjamurnya Toko oleh oleh yang besar besar di sekitar Kuta dengan kemampuan meladeni ratusan bus bus besar dan mobil sewa, pasti mampu melibas pasar pasar seni traditional yang tidak memiliki areal parkir dan susah dicari karena jalan menuju kesana macet. Begitu pula mereka pasti mampu menghancurkan toko toko kesenian yang selama ini memang menjual patung dan perak terlalu mahal karena pembagian komisi terlalu tinggi dengan para sopir dan guides.

Jadi pola berbusiness pariwisata sudah berobah total dari mengejar quality product menuju cara cara penjualan quantity. Dan yang menang dan menguasai pasar pastilah pemilik modal yang katanya uangnya tidak ber seri itu, sehingga orang Bali yang bermodal pas pasan dan yang sulit mendapatkan pinjaman Bank, akan mati seperti tikus yang berada dilumbung beras.

Yang disayangkan betul adalah Kepariwisataan yang seharusnya memberikan multi trickle down effects kepada seluruh penduduk pulau Bali, tidak terjadi dengan baik, sehingga masih banyak kantong kantong kemiskinan yang ada di daerah pedesaan di Bali, dan ini yang perlu mendapatkan perhatian sangat serious demi kesinambungan pariwisata Bali.

 

Apa yang terjadi saat ini ?

Di semua buku yang sudah diterjemahkan berbagai bahasa di dunia tentang Bali, di tulis dan di simpan arsip photo-photo tentang keindahan dan keunikan Bali, buku buku itu ada dalam  berbagai judul: “ The Arts of Bali”, “The Bali Gardens”, “ The Architect of Bali”, “ Bali Home”, “The Ceremonies in Bali”, “The Balinese Village Life”, “The Fruits of Bali”, “The Dance of Bali” dan ada ratusan bahkan mungkin ribuan judul buku tentang Bali sejak tahun 1930-an.

Banyak pelukis terkenal mendapatkan inspirasinya di Bali, lukisan mereka bernilai sangat tinggi sekarang seperti Hofker, Rudolf Bonnet, Le Mayour, Walter Spies, dan banyak lainnya. Lukisan lukisan mereka diburu keseluruh dunia karena para penulis dan photographers terkenal membukukan lukisan mereka dengan edisi lux. Mereka mereka inilah yang membuat Bali menjadi terkenal seperti saat ini.

Kepariwisataan Bali menjadi sangat maju karena keterkenalan ini, namun pemangku kepentingan business dan penguasa saat ini seolah olah mereka lupa dan terbius karena kepentingan sesaat, menurut saya kita sudah gagal untuk melihat kepentingan kepariwisataan kita masa panjang yang menyangkut kehidupan anak dan cucu kita orang Bali.

Kabupaten Badung memang yang memiliki area airport dan pelabuhan, juga memiliki pantai pantai dan pinggiran pantai yang terletak tidak jauh dari airport dan pelabuhan itu. Maka dari ini dia menjadi incaran para investor untuk membangun di Bali.

Pada saat ekonomi Indonesia membaik, pada saat keamanan merasa cukup terjamin, pada saat Bali dapat dijangkau dengan mudah dan murah dari berbagai penjuru dunia, maka pada saat itu pula para investor berdatangan dengan dana berkopor kopor menjerbu setiap jengkal tanah yang bermerek “dijual”

Harga tanah melambung dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, dan menggelembung sedemikian rupa sehingga menjadi tidak masuk di akal tingginya, namun masih tetap ada saja yang beli. Namun rem dari team pemberi ijin bangunan seakan-akan blong tidak terkendali, dan mungkin saja melabrak banyak rambu rambu yang tadinya digariskan oleh moyang kita.

Nenek moyang kita mengajarkan keseimbangan dan keharmonisan dalam membangun rumah dengan ukuran hasta kosala kosali suah banyak dilupakan, begitu pula keharusan untuk memiliki tengatah dan kebun hidup hijau diabaikan atas nama tanah harganya mahal.

Muncullah bangunan bangunan tingkat 4 dan 5 dengan menggunakan seluruh tanah yang dibeli, dengan tidak menjediakan 2 meter tanah sekeliling dengan batas tanah, namun batas tanah langsung menjadi tembok pinggir bangunan itu, sehingga menurut saya menjadi bangunan kandang kandang parkit.

Bagaimana tidak kandang parkir ? Kamarnya kecil kecil, dari 10 are tanah dibuat 60 atau lebih kamar-kamar, tidak tersedia facilitas umum yang cukup seperti parkir mobil, kebun, taman, dan jarak dengan as jalan sangat dekat. Akibatnya banyak pengunjung harus parkir di badan jalan yang sudah sempit dari asalnya.

Bangunan bangunan semacam ini ada banyak sekali dibangun dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, banyak di Benoa, Jimbaran, Sepanjang Bypass Ngurah Rai, Sunset Road, dari Tuban – Kuta – Seminyak dan selanjutnya.

Ini semua mengakibatkan kita semua harus menderita setiap hari di jalan raya, kemanapun kita pergi, selalu saja macet, tidak kenal pagi, sore, malam, hari kerja apalagi hari libur. Dan ini pula sudah menjadi catatan bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Bali, full day tours mereka yang dulu hanya 8 jam dengan leluasa melihat pemandangan sepanjang jalan sampai Kintamani, sekarang 5 Jamnya harus dihabiskan dalam bus karena macet dimana mana.                                               …………..Bersambung……