Kedewatan 1984 yang sangat asri dan menakjubkan

Saya sangat menikmati Ubud di tahun 1974 ketika saya diajak tinggal di Puri Saren Kangin oleh Bapak Tjok Kolonel Oka Sudharsana bersama sedangkan semua anaknya lain masih sekolah dan tinggal di Denpasar.

Jalan dari depan pasar Ubud sampai ke Penestanan dengan udara sejuk sangatlah sehat, begitu pula jalan ke Pura yang sekarang disebut “Monkey Forest” sangat asri lekak lekuk sawahnya, dan lebih indah lagi ke Utara hotel Tjampuhan atau kiri atas rumahnya Warwick Purser yang disewa dari Pak Wayan Munut.

Bapak Wayan Munut memang tahu betul semua lokasi tanah tanah yang sangat indah di sekitar Ubud, dia seorang pelukis yang berasal dari Panestanan yang punya bakat dagang dan mengerti bangunan undagi Bali.

Teman teman saya dari Belanda menyewa beberapa bidang tanah darinya di Kedewatan dan membangun enam rumah cottages dengan masing masing dua kamar. Itu adalah pemandangan yang buat saya paling indah saat itu, melihat kebawah terasering sawah yang dibatasi oleh sungai ayung yang berkelok kelok, dan ini 10 tahun kemudian setelah saya mengenal Ubud untuk pertama kalinya. Pada tahun 1984 itu saya sering pulang balik Kuta – Kedewatan untuk menikmati kedua tempat indah, satu Panti Camplung Tanduk dan yang satunya bukit kedewatan.

Banyak sekali orang orang terkenal yang mulai berdatangan, banyak yang dari Australia dan juga banyak dari Eropah terutama Belanda dan United Kingdom.

Lama kelamaan, mereka yang pernah tinggal lama di cottages kita itu, begitu senangnya atas alam disekitar itu mulai membangun, misalnya Kupu Kupu Barong dengan restaurantnya indah menyenangkan dan menu barat yang enak, terutama pumpkin soupnya.

Rupanya Bali sudah punya nasib yang demikian, dimana ada keindahan, tidak lama kemudian diserbu oleh investor investor besar. Menurut saya adalah sayang, sangat lebih baik bila kesempatan itu diberikan kepada penduduk local dengan membuat pondok pondok wisata yang asri namun dibantu pemasarannya dan managementnya.

Takdir berkata lain. Sobek mulai dengan sweet water raftingnya di river Ayung, sangat mengesankan keindahan sungai Ayung itu baik melaju di air maupun melihatnya dari atas. Dan makin banyak pula yang menikmati pemandangan indah itu dan diantara penikmat itu adalah para investor yang berdatangan.

Amandari dibangun, Four Season dibangun, Alila dibangun, Royal Pitamaha dibangun, Dokternya hotel Bali Beach membangun rumah disana, villa kecil kecil seperti Paul Hamlin dan Teras Ayung dibangun disana, dan achirnya pembangunan sekarang sudah sampai dibawah dipinggir pinggir sepanjang kali Ayung itu.

Tidak ada lagi rasa takut seperti jaman dulu disana sangat membuat bulu kuduk berdiri karena katanya disana banyak ada rumah “Tonya” penghuni mahluk halus yang sudah memiliki dan bersemayam didaerah daerah angker seperti itu.

Sekarang ini semua jengkal tanah diantara Monkey Forest dan beyond sudah terbangun, begitu pula sekitar area itu, begitu juga daerah Penestanan dan areal menuju ke Penestanan itu, Dari Ubud sampai ke Kedewatan dan beyond juga sudah penuh dengan berbagai kreativitas.

Luar biasa kepariwisataan itu merambah daerah tertentu dan menyerangnya habis habisan, namun masih banyak daerah lain yang belum dirambahnya dengan baik, sehingga semua daerah popular itu makin lama makin sangat padat dan untuk menuju kesitu maupun keluar dari daerah itu sering membutuhkan waktu berjam – jam sekarang.

 

Kintamani oh Kintamani….nasibmu kini

Kintamani adalah sebuah daerah yang pernah menjadi favorite kunjungan Pariwisata. Saya menjadi guide sejak 1976 – 1984, resmi dengan tanda tanda guide licensed dan sangat menikmati profesi itu sepenuhnya.

Pada jaman itu Kintamani tours bagi seorang guide  adalah tour basah, karena penuh dengan tambahan income dan makan enak, mulai dari nonton barong di Batubulan, mengunjungi toko kerajinan emas dan perak di Celuk, melewati Desa Mas untuk membeli patung kayu, membeli lukisa di Ubud dan makan enak dengan pemandangan kawah Batur dan danau yang asri.

Tidak ada kawat listrik yang mengganggu photo kita, dan tidak ada pedagang asongan yang mengejar para tamu dan memaksa membeli barang mereka dan kemanapun kita pergi sangat aman dan nyaman.

Menginap di Toya Bungkah malam hari dan trekking melihat matahari terbit di pagi hari di sekitar kawah gunung batur adalah pengalaman yang tidak ternilai. Begitu pula naik perahu melintasi danau Batur menuju desa Trunyan dimana kita bisa menyaksikan kuburan yang hanya meletakkan mayat tanpa ditanam namun tidak berbau.

Seorang tourist yang berkunjung ke Bali tanpa mengambil full day tours yang berlangsung 8 jam itu, pasti merasa belum pernah ke Bali karena itu adalah hightlight sebuah tour paket ke Bali.

Setelah saya tidak menjadi guide pun saya dengan senang hati menemani clients VIP saya untuk makan siang ke Kintamani, karena berkendara keluar kota dan naik gunung menikmati udara bersih dan makan satai hangat di salah satu restaurant itu adalah outing yang luar biasa buat saya.

Namun sekarang sudah sebagian besar restaurant yang besar, nyaman dan enak itu sudah bangkrut dan gulung tikar. Masyarakat sekitar dan masyarakat pendatang dengan sepeda motor pedagang acung mengikuti bus bus tourist kita dan setiap stop dan tourists turun selalu mendapat kerubutan dan sering dihujat dengan kata-kata kasar bila tidak membeli.

Begitu pula pemilik boat yang mengantar kita di danau Batur sering terdengar mematikan mesin perahunya ditengah danau dan memaksa penumpang untuk membayar double.

Buat saya semua hal ketidak nyamanan yang dilakukan oleh masyarakat kita itu dan yang tidak mampu diatur oleh masyarakat setempat adalah sebuah cara “ self destruction”. Dan benar apa yang terjadi, nama Kintamani dikeluarkan dari setiap paket pariwisata karena Tour Operators tidak mau mengambil resiko untuk menerima complain terus terusan.

Setelah itu pula menjadi sangat disayangkan bahwa kunjungan ke Kintaman menjadi sangat drastic, sangat sayang buat saya karena Toya Bungkah itu salah satu tempat honeymoon saya.

Saya tidak tahu mengapa masyarakat kita tidak belajar dari kejadian ini, saya sebut masyarakat namun saya maksudkan pemerintah dan semua stakeholders pariwisata tidak mengerti dan memperbaiki diri bersama. Pembangunan liar dimana mana dan dibiarkan, dan pembiaran ini adalah dosa yang paling besar kepada anak dan cucu kita.

Hal yang sama terjadi pula di Besakih, sebuah Pura yang paling dihormati masyarakat Bali dan dianggap paling suci. Namun ada saja yang dilakukan masyarakat setempat yang membuat perasaan wisatawan tidak aman dan tidak nyaman.

Ada yang memaksa sewa selendang, ada yang memaksa menjadi guide local dengan imbalan tinggi, ada yang mengacung terus menerus dan tidak mengerti dan tidak terima arti kata “NO” dan lain sebagainnya yang menyebabkan juga pernah Pura suci ini dikeluarkan dari semua brosur paket kunjungan wisata.

Mengapa pemerintah kita, maksud saya oknum oknum di pemerintahan yang sudah sangat berani mempromosikan dan kampanyekan diri sehingga terpilih menjadi pejabat tidak mampu mengatur semua daerah ini dengan baik menuju kemakmuran bersama. Setelah terpilih apa saja yang dikerjakan.

Apakah semuanya tidak merasa bersalah membiarkan pembangunan yang tidak menggambarkan bangunan seperti di Bali terutama di Bali selatan, bukankah pembiaran itu adalah dosa yang paling besar. Menurut saya dosa ini harus ditanggung oleh semua team yang mengeluarkan ijin bersama pejabat pejabat terkait dan masyarakat pengusaha yang memaksakan diri untuk menadapat ijin dengan segala cara termasuk membayar mahal yang seharusnya tidak begitu ?

 

 

Kenyataan selama 40 tahun ini

Pulau Bali hanya sekitar 6600 Km2, seharusnya 60% dibiarkan hutan hijau, sawah ladang, danau dengan sungai yang airnya jernih penuh dengan ikan air tawar serta binatang dan kupu-kupu serta kunang-kunang kerkeliaran tanpa ada yang menjadi ancaman mereka.

Pejabat pejabat serta banyak masyarakat kita sudah pernah keluar negeri dan mengunjungi banyak daerah pariwisata dunia, mengapa kita tidak bisa meniru mereka ? Bukan meniru semuanya, tirulah kebersihan mereka, tirulah pemeliharaan alam mereka, tirulah pengaturan pembangunan mereka.

Lihatlah misalnya New Zealand selatan yang dijuluki the Garden of the World, The Rocky Mountain dan hutan lindung mereka di Canada, Oregon yang terkenal dengan sungai Santiem dimana kita bisa mengaca dan melihat ikan dari atas sampai kedasar sungai begitu pula di Savannah USA, Brugge di Belgia yang ditata dengan sangat apik, atau di pesisir pantai barat Perancis etretat yang asri dan tidak usah jauh di banyak kota di Australia dan Singapura yang bersih dan nyaman.

Apa yang salah dengan kita ? Makin banyak para wisatawan yang mengunjungi Bali tidak dibarengi dengan semakin maju secara merata kehidupan masyarakat Bali. Mereka yang menjadi kaya dan menikmati indahnya kota kota lain di dunia bisa dihitung dengan jari.

Kebanyakan masyarakat Bali baru masih berkutat di kepemilikan rumah, kendaraan dan pemeliharaan kesehatan yang masih serba mencicil, karena mereka kebanyakan adalah karyawan biasa dan tidak berani serta tidak diarahkan menjadi entreprenours.

Dalam keadaan seperti ini kita tidak memberikan rambu-rambu yang tegas seberapa banyak dan berapa prosentasi yang diberikan kepada masyarakat pendatang untuk membangun di Bali. Mereka itu kebanyakan membangun di Bali dan tidak membangun untuk Bali.

Ini berarti keuntungan kepariwisataan dan deviden yang diberikan oleh kepariwisataan Bali yang menjadi terkenal karena adanya orang Bali dengan semua tradisinya yang menarik dunia, tidaklah mengendap di Bali namun sebagian besar menguap keluar Bali.

Dari hulu ke Hilir semuanya dikuasai oleh kekuasaan dan usahawan dari luar Bali dan kita semuanya bengong dan membiarkan itu semuanya terjadi didepan hidung kita.

Keuntungan dan deviden Airport dan Pelabuhan bagian terbesar lari keluar Bali, hanya physicnya berada di Bali. Hotel hotel bintang 4 dan 5 keatas, sebagian besar bukan milik orang Bali jadi keuntungannya terbang keluar Bali. Semua usaha usaha besar lainnya tidak dimiliki oleh masyarakat Bali kita.

Minggu lalu saya diminta berbicara didepan anggota dari Bali Rasa Sayang, sebuah paguyuban usahawan yang mengerjakan pasar Jepang, disana ada sekitar 60 DOS (Director of Sales), Sales Manager hotel hotel besar dan perusahaan besar lainnya. Ketika saya bertanya ada berapa orang Bali disini ? Hanya 5 orang yang menaikkan tangan mereka. Dimana orang Bali bekerja ?

Sampai ditingkat sales manager saja sudah tidak sampai, kapan bisa menjadi Manager hotel bintang 5. Memang ada beberapa yang sampai kesana, namum masih bisa dihitung dengan jari.

Rupanya ini sudah menjadi Jaman kapitalis, dan hanya yang ber kapital besar bisa menentukan apa saja, termasuk mendapatkan ijin bangunan untuk apa saja asal mampu membayar yang disyaratkan. Dan ini pula yang merubah warna dan bentuk Bali sehingga lama kelamaan tidak menyerupai Bali. Datang di Airport, naik mobil lewat Kuta, Legian, Seminyak perang melawan jalan macet check ini di Minalis hotel.

Itu sama saja dengan pergi ke kota kota manapun lainnya didunia, yang tidak memiliki karakter dan arsitektur Bali. Apakah ini akan terus berlanjut dan apakah itu kita akan terus biarkan ? Banyak tergantung dari isi kepala politisi kita.

Namun yang jelas masih banyak orang Bali miskin di semua kabupaten, makin jauh dari Badung makin banyak. Minggu lalu saya main Golf di Pecatu, disana banyak uang berhamburan membangun condotel, hotel, perumahan, clubs dan villas.

Di Hole 3 yang par lima itu, ditengah lapangan sebelum mukul ketiga kalinya, saya dipanggil oleh seorang wanita tua yang sedang mensabit rumput dan bilang….tiyang nunas siyu rupah bapak ganteng….saya Tanya..anggon geno siyu rupiah….anggon meli jaje katanya. Dan saya yakin ini adalah sangat original dan sangat asli, tidak seperti orang minta-minat di traffic light karena malas.

Saya berikan sepuluh ribu rupiah dan dia kelihatan sangat senang. Apa yang bisa dia beli dengan seribu rupiah saat ini ? Dan saya yakin ada puluhan ribu masyarakat seperti ini di seluruh Bali yang terperangkap seperti tikus berlari lari di lumbung padi.