Mengikuti Perkembangan Pariwisata di Bali

Oleh Aloysius Purwa

Pada waktu saya masih mahasiswa tahun 1970-an, saya bersama sama teman kelas dan guru bahasa Inggris dari Amerika sering sekali bersama sama pergi ke Pantai Kuta sambil mempraktekkan bahasa Inggris kami dibawah pohon pandan itu.

Saya tidak mengerti saat itu semua pejabat dan para pembela lingkungan hidup sering berteriak “ Jangan sampai Bali dijadikan Hawaii kedua”, saat itu saya belum pernah kesana sehingga saya tidak bisa berkomentar.

Namun saya akan bisa berkomentar sekarang karena saya sudah 5 kali pergi kesana, termasuk bermain Golf di Pulau besar di Plantern dan Wakalua, dan saya sudah sangat menikmati pergi kesana walaupun pada saat kerja ataupun saat libur.

Yang ingin saya share bersama ini adalah beberapa hal termasuk infrastruktur bulevard mereka, Jalan jalan yang parallel dengan pantai, dimana terletak toko toko yang rapi selalu sangat lebar, dan disertai trotoir selebar 8 meter di kiri jalan dan 8 meter di kanan jalan.

Para wisatawan merasa sangat nyaman jalan jalan disana, walaupun ada ribuan orang jalan dan berlawanan tidak ada satu orangpun yang berbenturan, dan mereka dengan bebas masuk keluar toko toko souvenirs tanpa ada seorangpun dari toko yang berteriak atau memaksa mereka masuk untuk berbelanja.

Namun saya juga perhatikan bahwa banyak sekali yang ada di kasir toko toko itu adalah orang Jepang atau keturunan Jepang, namun saya tidak menemukan jawabannya lebih lanjut apakah orang orang Jepang itu ada disana karena mereka memiliki toko toko itu ataukah karena wisatawan yang datang kebanyakan dari jepang yang tidak bisa berbahasa Inggris.

Sejarah mengatakan kepada kita bahwa Jepang menyerang Pearl Habour saat Perang Dunia ke II, namun saya tidak tahu apakah itu yang menjadi latar belakang bahwa sebagian besar business di Waikiki itu dikuasai oleh orang Jepang.

Di Kuta pada tahun 1970-an itu jalan jalan baru perkerasan saja dan belum di aspal, harga tanah di Jalan Bakung sari masih Rp 50,000 per are, namun sebagai seorang mahasiswa tentu kita tidak hiraukan karena kita tidak punya uang dan darah entreprenourship kita juga belum tumbuh.

Dari East West Bungalows (sekarang jadi Maharani Beach dan McDonald) sampai ke Tjamplung Tanduk ( sekarang disebut Gado-gado) di pingir pantai hanya ada pohon pohon pandan tempat kita berteduh dan terkadang pacaran.

The blue ocean yang diberikan nama di depan Jayakarta Hotel digunakan oleh Backpackers yang kebanyakan datang dari Australia dan dari Inggris, mereka dalam perjalanan mereka overland Australia – UK atau sebaliknya UK – Australia, dengan murah.

Penduduk setempat memiliki losmen losmen yang harganya hanya USD 1 per malam, dan sewa sepeda motor atau trail juga harganya sama yaitu USD 1 per hari. Travel agent di Australia menjual vouchers dengan nilai itu, dan backpackers itu bisa menukarkannya dengan losmen atau sepeda motor di Bali.

The Blue Ocean digunakan untuk meniru kehidupan di Bali di pedesaan, yaitu bertelanjang bulat saat mandi di sungai atau di selokan selokan sawah. Mereka laki dan perempuan, cantik dan tua, besar dan kecil semuanya bertelanjang bulat dan main volley Ball atau sepak bola pantai.

Anak anak muda local sering juga ikut nimbrung kesana, bersama untuk menikmati sun dan sand, dan merasakan kebebasan disana yang mereka idam idamkan.

Pada tahun 1974 Hotel Kayu Aya, hotel terbesar di Kuta yang sekarang namanya Hotel Bali Oberoi jauh diluar Kuta di Seminyak dan jalan Kuta dan Seminyak masih baru pengerasan lime stone. Tahun tahun pertama Kayu Aya Hotel masih sangat sepi sehingga dijual hanya dengan USD 7 per malam.

Pada tahun ini saya juga pulang balik ke Ubud dan Kost saya di Denpasar, saya membantu di Puri Saren Kangin untuk memulai sebuah penginapan sederhana saat itu. Ubud sangat nikmat bagi saya, udara sejuk, sawah sawah cantik ke Mongkey Forest dank e Penestanan dan sekitarnya. Ubud penuh inspirasi dan pusat Budaya tari, gamelan yang didukung oleh kekuatan Puri Puri di Ubud.

Kuta secara alamiah menjadi makin lama makin terkenal karena backpackers ini dan tidak diatur sama sekali oleh pemerintah. Pemerintah saat itu mengatur desa Sanur untuk menjadi daerah wisata. Namun lama kelamaan banyak tamu yang tinggal di Sanur untuk tidur saja sedangkan untuk menikmati pantai dan kehidupan malam mereka ke Kuta. Hotel Bali beach dibangun tahun 1965, dan itulah permulaan Sanur menjadi icon pariwisata Bali saat itu.

Backpackers ini pula berkeliling Bali dengan sepeda motor sewaannya mereka tidur di losmen losmen orang Bali, di Bedugul, Lovina, Singaraja, Kintamani, Candidasa, Ubud, Sanur dimana mereka suka yang mereka sebut Free and Easy tukar dengan vouchers tadi. Itulah yang menjadi permulaan kepariwisataan Bali berkembang lebih pesat terus.

Sekembali dari German

Pada waktu saya kembali dari German 1976, saya memilih untuk membangun tempat tinggal kami di desa Seminyak di Jalan Tjamplung Tanduk kemudian bernama Jl. Dhyana Pura atau Jalan Gado gado yang pada waktu itu masih jalan tanah. Tanah waktu itu berharga Rp.300,000 per are dan paling mahal Rp. 600,000 per are.

Didepan verandah rumah kami, sawah yang subur dan indah hijau, Pak Mokoh yang setiap pagi datang menyiangi tanaman padinya dan setiap hari pula memberikan salam “selamat pagi” kepada kami dengan ramahnya.

Hanya ada 1 restaurant antara perempatan Kuta dan perempatan Gado2, yaitu the Glory Restaurant di Legian tengah. Di belakangnya ada Three Brothers Inn. Hidup kita semua sangat damai, saya naik scooter dari Jalan Gado-gado perlu hanya 5  menit ke Perempatan Kuta, dan dari sana hanya 10 menit ke Gajahmada di Denpasar.

Saya tidak mau kembali ke Jaman itu, namun saya hanya ingin menyampaikan bahwa seharusnya siapapun yang mau dan ingin duduk di Pemerintahan harus punya Visi dan kemampuan menihat kedepan bagaimana wajah Bali yang seharusnya kita tampilkan.

Pada waktu itu sudah mulai seharusnya ada pemikiran pengembangan dan tertata sehingga tidak menjadi semrawut seperti sekarang ini, dan kekeliruan dan kebodohan itu itu tidak terus menerus diulangi dan diulangi lagi, apalagi setelah berkali kali melakukan study banding ke berbagai Negara.

Di depan rumah saya ada sebuah warung di manage oleh seorang ibu tua, suami beliau adalah AA Adji lingsir yang memiliki sebuah mobil sedan Impala tua terawat, beliau adalah partner saya dalam memulai karier dalam bidang pariwisata. Saya Guidenya dan AA Adji lingsir itu adalah sopir yang selalu menemani saya untuk melayani para tamu. Tamu tamu saya banyak yang tinggal di Sanur waktu itu di Bali Hyatt Hotel dan Bali Beach Cottages dan sering pula di Oberoi dan Tanjung Sari Hotel.

Teman-teman saya bertanya, mengapa membuat rumah di Seminyak yang masih hutan itu dibawah pohon pohon bamboo ? Pada waktu itu katanya Seminyak dan Sanur adalah daerah sangat angker dan banyak orang tidak berani tinggal disana. Konon Leak Sanur sering bertempur dengan Leak-leak lainnya di malam hari.

Suatu malam saya ajak tamu-tamu saya pergi ke Jalan Tanjung Bungkak Renon, dan menyaksikan peperangan Leak itu. Kami semua menghadap ke timur menuju arah Padang Galak. Dan memang betul kami semua melihat ada api datang dari arah Bali beach dan api yang datang dari arah Padang Galak. Bertempur diatas, dan bulu kudukpun merinding.

Walaupun saya masih ingat betul tentang hal itu, namun saya tidak ada yang menjelaskan yang sebenarnya apa itu, apakah bebar itu Leak bertempur ataukah akal akalan mereka yang mau menipu dan menakut-nakuti kita semua.

Semua entertaiment area bertumpuk di area The Sand Bar, The Doggies, dan Restaurant Mini selama bertahun-tahun di areal Bom site yang menjadi sepi saat ini. Di daerah pantai kuta seharusnya dibangun sebuah Boulevard yang luas bila ingin menjadi daerah ramai seperti saat ini, dan itu sangat mungkin pada waktu itu.

Kalau saja tidak benci kepada Hawaii dan meniru yang bagus, misalnya membuat jalan untuk pejalan kaki selebar 12 meter dari lokasi Hard Rock sekarang sampai dengan lokasi Gado-gado, dan semua lorong lorong diatur yang bagus, makan Kuta pasti menjadi daerah yang sangat bagus sampai puluhan tahun mendatang.

Sayangnya tidak ada yang punya visi seperti itu. Malah memaki-maki Hawaii, serta ngumpat supaya Bali jangan dijadikan Hawaii ke Dua. Hasilnya saat ini Hawaii masih tertata rapi dan menarik jutaan Wisatawan mancanegara dan tetap merasa nyaman. Sedangkan Kuta dan sekitarya berkembang menjadi daerah kumuh yang lambat laun pasti akan ditinggalkan.

Saat terjadi Bom Bali 2002, maka Kuta betul betul ditinggalkan. Sepi sekali dan entertaiment area pindah ke Jalan Gado Gado itu, saya sudah merasakan kejadian itu akan terjadi sehingga saya meninggalkan Seminyak jauh sebelum itu.

Pada saat perhatian masyarakat membangun ke daerah Seminyak, Kerobokan dan Umalas, pada saat Team pemberi Ijin bangunan lengah dan membiarkan semuanya berlaku begitu saja. Macam macam bangunan besar dan kecil, Minimalis dan menggunakan tanah minimal namun penuh bangunan dimana-mana.

Para pendatang dari luar Bali dan Tourist yang melihat dan membaca kelemahan team ini menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin, sehingga semua sawah sawah di Seminyak, Kerobokan, Umalas, Brawa dan Canggu habis amlas tanpa ada perubahan peruntukan dari tanah pertanian menjadi tanah pemukiman dan tanah usaha.

Terjadilah itu semua sekarang dan pembangunan tanpa kendali itupun sudah menghancurkan tata kehidupan ramah tamah menjadi buas memburu dollars. Tidak ada lagi pak Mokoh – pak Mokoh yang setiap pagi sambil membawa sapi disawah dengan sambutan selamat pagi tu.

Dan Jalanpun macet dimana-mana, serta air sumur kita semua menjadi sadah dan asin.

…………Bersambung…